Samarinda — Di sudut Kota Samarinda, Diah Riezki Wulandari melangkah pelan namun penuh keyakinan. Mahasiswi Universitas Mulawarman asal Bontang Utara ini menyimpan cerita hidup yang tak banyak diketahui orang. Di balik senyum sederhananya, ada perjuangan seorang anak yang bangkit dari keterbatasan ekonomi demi mengubah nasib keluarganya.
Diah merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Program Studi Akuntansi. Pilihannya bukan tanpa alasan. Sejak duduk di bangku SMK, ia telah menekuni jurusan akuntansi dan melihat peluang kerja yang lebih luas di bidang tersebut.
“Saya berasal dari keluarga kurang mampu. Ayah saya sudah meninggal. Mama saya bekerja sebagai penjual kue, dan saya membantu mama berjualan agar bisa menghidupi keluarga,” ungkap Diah lirih, Minggu (07/12/2025).
Sebelumnya, dunia perkuliahan bukan bagian dari rencana hidupnya. Faktor ekonomi membuat Diah nyaris menyerah pada mimpinya.
“Sebelumnya saya tidak ada niat kuliah karena masalah keuangan,” katanya.
Namun, kabar tentang Program Pendidikan GratisPol yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur perlahan mengubah arah hidupnya. Informasi yang ia dengar dari cerita orang-orang membuatnya memberanikan diri mendaftar.
“Saya sangat berharap bisa dapat beasiswa ini karena saya pikir ini bisa bantu saya ke depannya,” ujarnya.
Saat dinyatakan lolos sebagai penerima GratisPol 2025, perasaan bahagia tak bisa disembunyikan.
“Saya sangat senang. Adanya GratisPol ini membantu saya membayar UKT. Berkat beasiswa ini saya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,” kata Diah.
Ia tercatat menerima UKT sebesar Rp500.000 per semester, jumlah yang sangat berarti bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Perjuangan Diah tidak berhenti pada bantuan beasiswa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah, ia memilih tetap bekerja.
“Saat ini saya juga bekerja supaya bisa membantu kehidupan saya selama kuliah,” ungkapnya.
Jika bantuan ini tidak hadir, Diah mengaku mungkin tak mampu melanjutkan studinya.
“Mungkin saya akan berhenti karena bingung mencari uang untuk UKT” jelasnya.
Bagi Diah, GratisPol bukan hanya soal bantuan biaya pendidikan, tetapi tentang kesempatan kedua yang membuka jalan baru dalam hidupnya. Ia berharap program ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang agar semakin banyak anak-anak dari keluarga kurang mampu yang bisa mengenyam pendidikan tinggi.
“Saya harap program ini terus ada karena sangat membantu yang ingin berkuliah,” ujarnya.
Kepada Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, Diah menyampaikan pesan sederhana namun tulus.
“Teruslah membantu kami, Pak. Kami sangat membutuhkan beasiswa seperti ini untuk mengubah kehidupan kami sebagai mahasiswa,” katanya.
Di antara keterbatasan dan tanggung jawab, Diah Riezki Wulandari membuktikan bahwa mimpi tetap bisa tumbuh—selama ada harapan dan kesempatan yang berpihak pada mereka yang berjuang. [zk/adv diskominfo kaltim]






