Alih Fungsi Lahan Tambang, Sawah di Desa Buana Jaya Menyusut Drastis

Ilustrasi - Penambangan [istimewa]

Kutai Kartanegara – Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pertambangan batu bara di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, menyebabkan luas areal persawahan di desa tersebut semakin menyusut secara signifikan. Jika sebelumnya lahan pertanian di desa ini mencapai lebih dari 700 hektare, kini luasan sawah produktif terus berkurang akibat meningkatnya pembukaan lahan untuk aktivitas pertambangan.

Situasi tersebut diungkapkan langsung oleh Plt. Sekretaris Desa Buana Jaya, Heriansyah. Ia menjelaskan bahwa keberadaan perusahaan pertambangan di kawasan tersebut membawa dampak nyata terhadap pengurangan lahan pertanian sekaligus memengaruhi mata pencaharian masyarakat petani setempat.

“Dengan masuknya perusahaan tambang, sawah-sawah warga banyak yang dialihfungsikan. Hal ini berdampak langsung terhadap menurunnya luas lahan pertanian, dan mau tidak mau, para petani harus beradaptasi,” kata Heriansyah saat ditemui di Desa Buana Jaya, Kamis (13/03/2025).

Kendati menghadapi tantangan berat, para petani di Desa Buana Jaya tidak tinggal diam dan terus berupaya mempertahankan ketahanan pangan mereka. Salah satu upaya konkret yang kini dilakukan adalah memaksimalkan lahan-lahan tersisa agar tetap bisa berproduksi, bahkan memanfaatkan kawasan rawa-rawa yang sebelumnya tidak digarap untuk dikembangkan menjadi area bercocok tanam.

“Rawa-rawa yang dulunya sulit diolah kini mulai dimanfaatkan kembali sebagai lahan pertanian. Dengan berbagai upaya, kami ingin memastikan bahwa warga tetap bisa bertani dan menghidupi keluarga mereka,” tambah Heriansyah.

Selain memaksimalkan lahan baru, para petani juga semakin terbuka dalam memanfaatkan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi dan hasil panen. Jika sebelumnya proses panen bisa memakan waktu hingga tiga hari untuk setiap hektare, saat ini mereka sudah bisa menyelesaikannya hanya dalam sehari berkat penggunaan mesin pemanen modern. Bahkan, panen malam hari pun bisa dilaksanakan berkat dukungan peralatan canggih.

“Dulu kami hanya bisa panen sampai sore hari karena bergantung pada tenaga manual. Sekarang, berkat mesin pemanen, proses panen lebih cepat dan lebih fleksibel,” jelasnya.

Namun demikian, Heriansyah mengakui bahwa para petani di Desa Buana Jaya hingga kini masih menghadapi kendala serius dalam pengeringan gabah. Sebagian besar petani hanya mengandalkan lantai jemur tradisional di pekarangan rumah, dan beberapa bahkan hanya menjemur gabah seadanya di pinggir jalan.

Ia menambahkan bahwa pihak desa telah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan mesin pengering kepada instansi terkait agar kualitas hasil panen lebih baik dan waktu pengeringan lebih singkat. “Kami sudah mengusulkan pengadaan mesin pengering, tetapi hingga saat ini belum ada tindak lanjut. Kami berharap aspirasi ini bisa segera terealisasi agar para petani bisa lebih sejahtera dan hasil pertanian mereka lebih berkualitas,” pungkas Heriansyah.

Dengan berbagai upaya dan kerja sama semua pihak, diharapkan para petani Desa Buana Jaya tetap mampu bertahan di tengah tantangan perubahan lingkungan dan persaingan lahan, serta semakin mandiri dalam menjaga ketahanan pangan di tingkat lokal. (wan/ADV/Diskominfo Kukar)

Print Friendly, PDF & Email