Samarinda – Di balik senyum hangatnya, Difa Aulia, mahasiswa STAIS, menyimpan kisah perjalanan yang tidak mudah. Lahir dari keluarga sederhana—ibunya seorang guru mengaji, ayahnya bekerja sebagai driver Maxim motor—ia tumbuh dengan pemahaman bahwa pendidikan adalah tangga panjang yang tidak semua orang mampu memanjatnya tanpa bantuan.
Ketika pandemi melanda, ayahnya sempat terkena pengurangan karyawan. Pendapatan keluarga menurun drastis, sementara kebutuhan pendidikan Difa dan ketiga saudaranya tidak ikut berkurang.
“Keluarga difa bukan dari keluarga yang berada, jadi adanya bantuan ini bisa dibilang sangat membantu kondisi ekonomi keluarga,” tuturnya pelan, Selasa (18/11/2025).
Namun di tengah guncangan itu, hadir sebuah harapan baru.
Program GratisPOL, inovasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, baginya bukan sekadar bantuan. Ia menyebutnya sebagai titik balik.
Meringankan, Menguatkan, dan Menyalakan Semangat
Difa bercerita bagaimana GratisPOL benar-benar memberi ruang bernapas dalam perjalanan kuliahnya.
“Program GratisPOL benar-benar ngebantu banget, kak. Pengaruhnya besar sekali dalam memenuhi kebutuhan pendidikan difa,” ungkapnya pada saat diwawancarai.
Yang awalnya menjadi beban terbesar—UKT yang harus dibayar setiap semester—kini tidak lagi menghantui. Program ini, kata Difa, bukan hanya mengurus UKT saja.
“Setahu difa, bukan cuma UKT aja yang ditanggung. Biaya KKN, PPL, bahkan sampai wisuda nanti katanya ikut ditanggung juga. Bener-bener meringankan sih kak,” ujarnya sambil tersenyum lega.
Lebih dari sekadar angka di kertas tagihan, bantuan itu memberi efek berantai bagi hidupnya sehari-hari. Ketika kewajiban keuangan berkurang, pikirannya menjadi lebih tenang.
“Jadi difa bisa lebih fokus sama perkuliahan tanpa harus khawatir kondisi finansial,” katanya.
Bagi Difa, bantuan ini bukan sekadar hadiah, melainkan amanah. Ia ingin membalasnya dengan cara paling bermartabat: menyelesaikan pendidikan S1 tepat waktu.
“Kan kita udah dibantu nih. Setidaknya ada lah timbal baliknya untuk pemerintah dengan berkontribusi menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Kalau bisa cumlaude, hihihi… aamiin,” ucapnya bercanda, tapi matanya serius.
Harapan itu ia bangun bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarganya. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, ia ingin menjadi contoh bahwa kesempatan kecil pun dapat membawa perubahan besar. [min/adv/diskominfo kaltim]






