KUKAR – Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara, Aulia Rahman menegaskan komitmennya untuk mengurangi ketergantungan daerah terhadap sektor pertambangan yang selama ini mendominasi struktur ekonomi.
Dalam lima tahun terakhir, sektor ekstraktif masih menyumbang lebih dari 40 persen perekonomian Kukar—angka yang dinilai terlalu besar dan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Dia ingin pemkab Kukar mendorong percepatan transformasi ekonomi melalui penguatan sektor-sektor produktif berbasis potensi lokal, terutama pertanian, perikanan, UMKM, dan industri pengolahan.
“Pemerintah daerah telah menetapkan target jelas untuk lima tahun ke depan, yakni: meningkatkan kontribusi sektor pertanian dan perikanan hingga 20 persen pada 2027, menciptakan 20.000 peluang kerja baru dari UMKM dan sektor non-tambang, serta membangun pusat-pusat ekonomi baru di kawasan hulu, tengah, dan pesisir,” ungkap Aulia, 1/11/2025.
Langkah ini, kata dia, merupakan bagian dari strategi besar mengurangi risiko ekonomi akibat ketergantungan pada sektor tambang, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.
Menurut dia, wilayah Kukar memiliki kekuatan besar di sektor pangan, pesisir, dan kerajinan, yang dapat menjadi pilar ekonomi baru jika didorong dengan serius.
Berbagai program kini sedang disinergikan, mulai dari modernisasi pertanian, penguatan rantai pasok perikanan, hingga pengembangan sentra UMKM dan hilirisasi produk lokal.
“Kita ingin ekonomi Kukar tumbuh dari kekuatan masyarakat sendiri. Tidak lagi hanya mengandalkan sektor yang rentan terhadap pasar global,” ujar dia.
Dia menegaskan, untuk mendorong pertumbuhan yang lebih merata, Pemkab Kukar juga menargetkan lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di tiga wilayah strategis: Wilayah Hulu – berbasis pertanian pangan dan perkebunan, Wilayah Tengah – pengembangan UMKM, industri kecil, dan jasa, dan Wilayah Pesisir – penguatan sektor perikanan dan ekonomi maritim.
“Upaya ini diharapkan mampu membuka lebih banyak lapangan kerja, mengurangi ketimpangan antarwilayah, serta memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” kata dia.
Melalui diversifikasi dan penguatan potensi lokal, Pemkab Kukar optimistis dapat memulai babak baru pembangunan ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tahan terhadap krisis harga global.
“Transformasi ekonomi bukan pilihan, tetapi keharusan. Kukar harus menyiapkan fondasi ekonomi baru yang kuat, agar masyarakat tidak lagi terpukul ketika harga komoditas dunia mengalami gejolak,” tegas Bupati. [zak/adv prokom]






