SAMARINDA – Pedagang Pasar Pagi yang sudah direlokasi ke sejumlah lokasi mengeluhkan penurunan omset sejak dipindahkan dari lokasi mereka. Padahal para pedagang sebelumnya sudah mengutarakan bahwa saat ini mereka tengah memulihkan diri dari dampak negatif pandemic Covid-19 beberapa tahun silam.
Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Abdul Rohim pun angkat bicara. “Sebenarnya ini bukti bahwa Pemkot Samarinda tidak siap dengan rencana mereka sendiri,” kata dia.
Menurutnya, pemerintah semestinya sudah bisa memikirkan konsekuensi yang harus diterima pedagang. Bahkan pemerintah juga harus bisa memikirkan hal ini sebelum ngotot merelokasi pedagang untuk proyek revitalisasi Pasar Pagi.
“Ini mengindikasikan ada cacat prosedur dalam proses ini. Belum lagi persoalan yang lain,” lanjutnya.
Persoalan lain yang dimaksudnya adalah belum tuntasnya urusan lahan antara Pemkot Samarinda dan 48 orang pemilik ruko di sekitar kawasan tersebut. Menurutnya, Pemkot Samarinda harus bisa menuntaskan urusan tersebut dengan cepat. Mengingat ada hak warga atas tanah yang hendak dimanfaatkan pemerintah untuk program pembangunan.
Ia menyebut, panjang sekali dampak yang bisa dihasilkan dari kebijakan Pemkot Samarinda itu.
“Bukan hanya ke pedagang, tapi ke keluarga mereka, karyawan-karyawan mereka. Jadi ada ribuan nasib yang harus dipikirkan,” pungkasnya. [dtn/ADV DPRD SMD]






