SAMARINDA – Permasalahan stunting atau terhambatnya petrtumbuhan pada anak masih menjadi PR tersendiri bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat memicu stunting pada anak, diantaranya faktor ekonomi, kesehatan, hingga dipengaruhi oleh aspek sosial dalam keluarga.
“Penyebab stunting dapat bervariasi termasuk kesehatan yang tidak terjamin, masalah sosial dan kendala ekonomi yang dihadapi oleh keluarga miskin atau keluarga yang kurang memahami kebutuhan gizi,” kata Puji, Kamis (12/10/2023).
Ia sendiri mengatakan untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanyakoordinasi antarsektor serta partisipasi semua pihak terkait.
“Kunci utama dalam mengatasi stunting adalah ketahanan keluarga dan ekonomi. Apabila fondasi ekonomi dalam sebuah keluarga kuat, maka stunting dapat dicegah,” ungkapnya.
Tak hanya itu, stunting juga disebabkan dari ketidaksiapannya pasangan menjalani kehidupan pernikahan atau berumah tangga.
“Ditambah pilihan pernikahan dini, itupun bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting,” tegasnya.
Berdasarkan data saat ini kasus stunting di Samarinda masih di angka 25,3 persen dari target pada 2023 sekitar 17,9 persen. Jumlah itu dihitung dari 21 persen tingkat kunjungan ke posyandu. Untuk rentang usia 0 sampai 23 bulan sebanyak 1.051 anak, usia 24 sampai 59 bulan sebanyak 1.449 anak.
Dari kasus stunting tersebut tercatat tiga kecamatan tertinggi, yaitu Kecamatan Loa Janan Ilir sebanyak 235 anak. Kemudian, Kecamatan Sei Kunjang ada 151 anak, dan di Kecamatan Samarinda Ulu tercatat 105 anak.
Meskipun demikian, Politikus Partai Demokrat itu mengajak pemerintah dan masyarakat untuk saling berkomitmen dalam mengatasi stunting.
“Ketahanan pangan dan ketahanan keluarga harus menjadi prioritas bersama dan dikerjakan oleh berbagai pihak. Semua harus berkoordinasi untuk menciptakan solusi yang komprehensif,” tutupnya. [Ama/ADV DPRD Samarinda]






