Samarinda – Muslim, marbot Masjid Sabilal Muttaqin di Samarinda, masih sulit menahan haru saat mengenang momen ketika pertama kali menatap Ka’bah. Suaranya lirih, matanya berkaca-kaca.
“Petama kali melihat Ka’bah, saya menangis. Hati saya berbunga-bunga, terharu, tidak menduga bisa terpilih untuk berangkat umrah,” ujarnya pelan saat diwawancarai, Kamis (27/11/2025).
Lebih dari 15 tahun ia mengabdikan diri sebagai marbot. Membersihkan masjid, merawat mukena, menata sandal jamaah, hingga memastikan masjid selalu hidup dan nyaman untuk ibadah. Semua dilakukan tanpa pernah berharap balasan lebih dari sekadar ridha Allah. Namun tahun ini, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan datang mengetuk hidupnya: kesempatan untuk mencium tanah suci.
Muslim menyebut perjalanan ini sebagai momen paling sakral dalam hidupnya. Baginya, Ka’bah bukan sekadar bangunan hitam yang menjadi pusat dunia, tetapi simbol rumah Allah yang keberadaannya bahkan dipercaya telah ditetapkan sebelum Nabi Adam diciptakan.
“Impian semua orang pasti ingin mendatangi rumah Allah. Melihat Ka’bah saja sudah membuat tubuh bergetar. Saya merasa seperti disambut di tempat yang malaikat dulu thawaf di arasy,” ungkapnya.
Ia berharap perjalanan ini bisa menjadi penghapus dosa-dosanya, dosa istri dan anak-anaknya, serta dosa kedua orang tuanya.
“Ibadah ini bagi saya membawa keberkahan untuk keluarga saya,” katanya.
Muslim adalah salah satu penerima manfaat GratisPOL (Gratis Perjalanan Ibadah Religi), program unggulan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang menyediakan fasilitas perjalanan umrah serta ibadah ke tanah suci bagi marbot masjid, marbot musala, dan penjaga rumah ibadah lintas agama. Program yang digagas Gubernur Kaltim ini disebut Muslim sebagai sesuatu yang luar biasa dan jarang ditemukan di provinsi lain.
“Saya kagum dan salut kepada Pemerintah Provinsi Kaltim. Program seperti ini mungkin cuma ada di sini. Terima kasih sebesar-besarnya, semoga beliau yang memimpin selalu panjang umur dan ditambah keberkahan,” ujarnya.
Di sela pekerjaan sebagai marbot, Muslim kadang mengikuti temannya menjual batu mulia untuk menambah rezeki. Namun semua perjalanan hidupnya terasa kecil saat ia mengingat pengalaman paling berkesan selama di tanah suci:
tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i di antara Safa–Marwah, dan kesempatan mencium Hajar Aswad.
“Momen mencium Hajar Aswad itu… saya tidak bisa menggambarkannya. Seperti mimpi,” ucapnya tersenyum.
Bagi Muslim, perjalanan umrah ini lebih dari sekadar perjalanan ibadah. Ia menyebutnya sebagai perjalanan penyucian diri, peneguh iman, dan tanda bahwa Allah selalu punya cara indah untuk menghargai kesetiaan orang-orang kecil yang bekerja dalam diam.
“Saya berharap suatu hari nanti semuanya bisa pergi ke tanah suci. Semoga Allah kabulkan,” tutupnya penuh doa. [min/adv diskominfo kaltim]






