SAMARINDA — Gang sempit di kawasan permukiman padat Kota Samarinda itu mendadak ramai didatangi warga dan relawan. Di ujung gang kecil dengan akses yang bahkan sulit dilalui mobil, berdiri rumah sederhana milik Maria Mercedes — perempuan yang beberapa hari terakhir menjadi perhatian publik Kalimantan Timur setelah aksinya dalam demonstrasi di depan Kantor Gubernur viral di media sosial.
Di rumah berukuran sempit itulah perhatian publik perlahan berubah menjadi gelombang empati.
Organisasi masyarakat Baladika bersama PKK Kalimantan Timur kini bergerak membantu mewujudkan rumah layak huni untuk Maria. Bantuan tersebut diberikan setelah kondisi tempat tinggal Maria menjadi sorotan dan memunculkan simpati banyak pihak.
Ketua TP PKK Kaltim, Syarifah Suraidah bahkan turun langsung mengunjungi rumah Maria di kawasan Gang Masjid, Samarinda. Karena akses jalan yang terlalu kecil, rombongan disebut harus menggunakan sepeda motor untuk mencapai lokasi.
Kondisi rumah Maria disebut sangat sederhana dengan lebar bangunan kurang dari tiga meter. Ruang yang terbatas, kondisi bangunan yang sempit, serta lingkungan padat penduduk membuat kisah hidup Maria semakin menyentuh perhatian masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, bantuan yang diberikan bukan hanya rencana perbaikan rumah. Maria juga menerima bantuan handphone setelah sebelumnya mengaku kehilangan ponselnya.
Kehadiran Baladika dan PKK Kaltim dinilai menjadi simbol bahwa suara rakyat kecil terkadang baru benar-benar terdengar ketika viral di media sosial. Namun di sisi lain, perhatian terhadap Maria juga memperlihatkan kuatnya solidaritas sosial masyarakat ketika melihat warga hidup dalam keterbatasan.
Kasus Maria Mercedes pun berkembang lebih dari sekadar cerita bantuan sosial biasa. Di ruang publik, kisahnya mulai dipandang sebagai gambaran kontras sosial di Kalimantan Timur — ketika rumah warga kecil memantik empati publik, sementara di saat bersamaan masyarakat juga ramai memperdebatkan berbagai isu anggaran besar fasilitas pejabat daerah.
Program bantuan rumah layak huni sendiri saat ini memang menjadi perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah. Berbagai program renovasi rumah tidak layak huni terus didorong sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah.
Namun bagi Maria, perhatian yang datang kali ini bukan sekadar soal pembangunan fisik rumah. Di tengah keterbatasan hidup yang selama ini dijalani, kunjungan dan bantuan tersebut menjadi tanda bahwa dirinya tidak lagi merasa sendirian menghadapi keadaan. [*]






