SAMARINDA — Kehadiran Gubernur Kalimantan Timur, , di Stadion Segiri Samarinda menarik perhatian publik saat ribuan suporter membentangkan tulisan besar bertuliskan “Borneo Penjaga Marwah Kaltim” di tribun seberang. Kalimat “marwah” itu langsung mengingatkan publik pada pernyataan Rudy Mas’ud yang sempat viral ketika menjawab polemik mobil dinas Rp8,5 miliar, yang disebutnya sebagai bagian dari menjaga kehormatan dan wibawa Kalimantan Timur.
Malam itu, Stadion Segiri bukan sekadar arena sepak bola. Lautan oranye Pusamania berubah menjadi panggung besar tentang identitas Kalimantan Timur.
Di tengah riuh drum tribun dan nyanyian suporter, kehadiran Rudy Mas’ud menyita perhatian. Ia datang bukan hanya sebagai gubernur, tetapi sebagai simbol bahwa sepak bola sedang dijadikan ruang pemersatu kebanggaan daerah.
Sorotan justru tertuju ke tribun seberang.
Terbentang tulisan besar: “BORNEO PENJAGA MARWAH KALTIM.”
Kalimat itu langsung mengingatkan publik pada ucapan Rudy Mas’ud yang sempat viral ketika menjawab polemik mobil dinas Rp8,5 miliar. Saat itu, ia mengatakan kendaraan tersebut merupakan bagian dari menjaga “marwah Kaltim” sebagai daerah penyangga IKN dan tuan rumah bagi tamu nasional hingga internasional.
Kini, kata “marwah” muncul lagi. Tetapi bukan di ruang konferensi pers pemerintahan, melainkan di tribun sepak bola.
Bagi suporter, marwah bukan lagi soal kendaraan dinas atau protokoler pejabat. Marwah diterjemahkan menjadi harga diri daerah di atas lapangan hijau. Tentang bagaimana membawa nama Kalimantan Timur bersaing di level nasional.
Di Segiri, pesan itu terasa kuat.
Ketika Borneo FC menekan lawan, tribun bergemuruh. Ketika pemain berlari mengejar bola, ribuan mata seolah sedang menjaga satu hal yang sama: kebanggaan orang Kaltim.
Kehadiran Rudy Mas’ud di tengah atmosfer itu membuat narasi “marwah” berubah makna. Dari polemik politik menjadi simbol solidaritas daerah.
Sepak bola akhirnya menjadi ruang yang lebih mudah diterima publik dibanding pidato politik.
Di stadion, tidak ada sekat partai, jabatan, ataupun perdebatan media sosial. Yang ada hanya warna oranye, nyanyian suporter, dan keyakinan bahwa Borneo FC bukan sekadar klub, melainkan representasi harga diri Kalimantan Timur.
Dan malam itu, tulisan di tribun seolah menjadi pesan yang ingin ditegaskan kepada semua orang:
Marwah Kaltim tidak hanya dijaga di meja birokrasi. Tetapi juga di Stadion Segiri. [*]






