slot77smm panel murahKencang77 Heylinkhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiaslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginSlot gacorslot danaslot gacorslot deposit danaslot dana 5000kencang77slot gacorkencang77Daily News Sumut 35001Daily News Sumut 35002Daily News Sumut 35003Daily News Sumut 35004Daily News Sumut 35005Daily News Sumut 35006Daily News Sumut 35007Daily News Sumut 35008Daily News Sumut 35009Daily News Sumut 35010Daily News Sumut 35011Daily News Sumut 35012Daily News Sumut 35013Daily News Sumut 35014Daily News Sumut 35015Daily News Sumut 35016Daily News Sumut 35017Daily News Sumut 35018Daily News Sumut 35019Daily News Sumut 35020
slot77smm panel murahKencang77 Heylinkhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiaslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginSlot gacorslot danaslot gacorslot deposit danaslot dana 5000kencang77slot gacorkencang77Daily News Sumut 35001Daily News Sumut 35002Daily News Sumut 35003Daily News Sumut 35004Daily News Sumut 35005Daily News Sumut 35006Daily News Sumut 35007Daily News Sumut 35008Daily News Sumut 35009Daily News Sumut 35010Daily News Sumut 35011Daily News Sumut 35012Daily News Sumut 35013Daily News Sumut 35014Daily News Sumut 35015Daily News Sumut 35016Daily News Sumut 35017Daily News Sumut 35018Daily News Sumut 35019Daily News Sumut 35020

Politik Jawa dan Sikap Sunyi Seno Aji

Cerita di Balik Demo Pemakzulan Gubernur Kaltim

Oleh : Zaki 

Di politik Indonesia, pejabat publik biasanya sangat adaptif terhadap kritik. Demonstrasi jarang benar-benar dibiarkan membesar tanpa upaya pendekatan. Ada pola yang sudah lama dikenal: kritik dirangkul, tokohnya diajak bicara, emosinya diredam perlahan agar tidak berubah menjadi ancaman politik yang liar.

Kadang pengkritik dipeluk masuk ke ruang kekuasaan. Kadang tuntutannya diakomodasi sebagian. Kadang cukup diberi ruang dialog agar tensi jalanan turun.

Politik Indonesia terbiasa menyelesaikan konflik dengan pendekatan personal.

Namun pola itu tampaknya tidak sepenuhnya terjadi di Kalimantan Timur.

Saat 2 jilid gelombang demonstrasi terhadap Gubernur Kaltim Rudi Masud, muncul di Samarinda, perhatian publik justru tertuju pada sesuatu yang ganjil: dinginnya sikap Seno Aji.

Ia bukan figur yang tampil paling depan menghadapi demonstran. Ia juga tidak terlihat agresif meredam gerakan. Padahal secara politik, ia adalah bagian inti dari pemerintahan yang sedang dikritik.

Dan situasi menjadi lebih menarik ketika publik mengetahui satu fakta lain.

Seno Aji dan Erli Sopiansyah—koordinator Aliansi Perjuangan Rakyat Kaltim—ternyata berada dalam satu jejaring organisasi bernama Jaga Kaltim, atau Jentera Aspirasi Garda Rakyat Kalimantan Timur.

Dalam struktur organisasi itu, Seno Aji berada sebagai dewan pembina. Sementara Erli Sopiansyah menjabat wakil ketua umum.

Di titik itu, pertanyaan publik mulai berubah.

Jika ada hubungan organisasi, mengapa komunikasi tidak dipakai untuk meredam demonstrasi?

Mengapa jalur informal yang tampaknya tersedia justru tidak digunakan?

Pertanyaan itu semakin kuat karena pada demo jilid pertama, tuntutan massa sebenarnya masih berada dalam level tekanan politik yang relatif umum: hak angket, evaluasi kinerja gubernur, kritik terhadap oligarki keluarga, hingga sorotan terhadap tata kelola pemerintahan.

Narasi awalnya masih berupa kritik terhadap cara pemerintahan berjalan. Belum sampai pada upaya menjatuhkan kekuasaan.

Namun memasuki demo jilid kedua, arah gerakan berubah drastis.

Isu yang sebelumnya bicara evaluasi mulai bergeser menjadi pemakzulan Rudy Mas’ud.

Dan di situlah suhu politik berubah total.

Karena evaluasi masih membuka ruang perbaikan. Tetapi pemakzulan berarti mengakhiri kekuasaan.

Saat kata “pemakzulan” mulai diteriakkan, maka pertanyaan politik berikutnya otomatis muncul: siapa yang paling diuntungkan jika itu terjadi?

Jawabannya langsung mengarah kepada Seno Aji.

Sebab dalam struktur pemerintahan, jika gubernur berhenti atau dimakzulkan, maka wakil gubernur adalah figur paling dekat untuk naik menggantikan posisi tersebut.

Di sinilah spekulasi mulai tumbuh liar.

Apakah sikap dingin Seno hanya kebetulan politik?

Ataukah ada pembiaran yang disengaja?

Secara terbuka memang tidak ada bukti bahwa Seno berada di balik demonstrasi. Tidak ada fakta yang menunjukkan ia mengatur gerakan, mengendalikan massa, atau memainkan skenario politik tertentu.

Namun politik tidak selalu bergerak dengan bukti. Politik sering bergerak melalui persepsi.

Dan persepsi lahir dari hubungan-hubungan yang tampak saling tersambung: ada irisan organisasi, ada demonstrasi yang terus membesar, ada perubahan isu menuju pemakzulan, dan ada seorang wakil gubernur yang memilih tetap dingin di tengah semuanya.

Dalam politik Indonesia, diam sering kali lebih keras daripada pernyataan terbuka.

Ada kemungkinan Seno sengaja menjaga jarak karena sadar situasinya sensitif. Jika ia terlalu aktif meredam demonstrasi, publik bisa mencurigai bahwa gerakan itu memang punya jalur komunikasi khusus dengannya.

Tetapi jika ia terlalu dekat dengan massa, ia bisa dituduh bermain dua kaki di dalam pemerintahannya sendiri.

Maka posisi paling aman adalah diam.

Diam membuatnya tidak terlihat memusuhi gerakan. Tetapi juga tidak mudah dibuktikan sebagai pengendalinya.

Namun justru karena itulah ruang spekulasi semakin membesar.

Di sisi lain, ada pembacaan yang lebih panjang tentang karakter politik Seno Aji sendiri.

Berbeda dengan banyak politisi yang gemar tampil populis dan komunikatif di depan publik, Seno selama ini dikenal lebih tenang, organisatoris, dan cenderung bermain di wilayah struktur ketimbang panggung emosional.

Jika tampil lebih ekspresif dan komunikatif, maka Seno tampak memainkan politik yang lebih senyap.

Dan politik senyap sering sulit dibaca: apakah itu kehati-hatian, strategi bertahan, atau justru bentuk kalkulasi kekuasaan jangka panjang.

Karena dalam sejarah politik daerah di Indonesia, hubungan gubernur dan wakil gubernur jarang benar-benar steril dari persaingan masa depan.

Pasangan politik bisa tampak solid di awal pemerintahan, tetapi perlahan membangun orbit dan kepentingannya masing-masing. Sebab seorang wakil gubernur tetap memiliki ambisi, jaringan, dan peluang politik sendiri.

Apalagi jika kontestasi 2029 mulai dibayangkan sejak sekarang.

Dalam konteks itu, membiarkan ruang kritik tetap hidup mungkin juga menguntungkan secara politik. Tidak terlalu dekat dengan penguasa, tetapi juga tidak memusuhi kelompok penekan sosial.

Posisi abu-abu seperti itu sering menjadi ruang paling aman bagi politisi yang ingin menjaga semua jalur tetap terbuka.

Namun risiko dari politik diam juga besar.

Semakin lama Seno memilih tidak mengambil posisi jelas, semakin liar tafsir publik berkembang. Dan dalam politik, kekosongan penjelasan hampir selalu diisi oleh spekulasi.

Hari ini mungkin belum ada jawaban pasti apakah Seno sekadar membiarkan situasi berjalan, sedang menjaga jarak, atau justru menikmati dinamika politik yang berkembang diam-diam di sekelilingnya.

Tetapi satu hal yang mulai terlihat: demo di Samarinda bukan lagi sekadar soal kritik terhadap kebijakan pemerintahan.

Ia perlahan berubah menjadi panggung pembacaan tentang relasi kuasa, suksesi, dan pertarungan politik sunyi di dalam tubuh kekuasaan Kalimantan Timur sendiri.

Politik Sunyi Ala Jawa?

Sikap dalam dinamika demo Kaltim mulai dibaca sebagian publik sebagai praktik “politik Jawa”: tenang di permukaan, tetapi penuh kalkulasi di belakang layar.

Dalam buku Kursi Kekuasaan Jawa, menggambarkan bagaimana politik Jawa sering tidak dimainkan dengan benturan terbuka, melainkan lewat kesabaran, pembiaran situasi, membaca momentum, dan menunggu lawan melemah sendiri.

Karakter politik seperti ini biasanya: tidak banyak bicara, tidak terlihat agresif, tetapi tetap menjaga semua jalur kekuasaan terbuka.

Di tengah demo yang terus membesar, Seno memilih tidak terlalu aktif meredam, namun juga tidak terlihat frontal melawan massa.

Sikap itu memunculkan tafsir: apakah ini sekadar kehati-hatian politik, atau justru pola klasik politik Jawa — membiarkan dinamika bergerak sendiri sambil menunggu arah angin kekuasaan berubah?

Apalagi ketika isu demo bergeser dari evaluasi gubernur menjadi pemakzulan, maka otomatis bayang-bayang suksesi ikut muncul. Dan dalam struktur pemerintahan, posisi paling dekat dengan kursi itu adalah wakil gubernur sendiri.

Dalam politik Jawa, perebutan kekuasaan sering tidak dilakukan dengan menyerang langsung. Kadang cukup dengan tetap tenang, membiarkan ombak membesar, lalu hadir ketika keadaan sudah berubah. [Tulisan menjadi tanggungjawab penulis]

 

Print Friendly, PDF & Email
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

cuaca 898100176

cuaca 898100177

cuaca 898100178

cuaca 898100179

cuaca 898100180

cuaca 898100181

cuaca 898100182

cuaca 898100183

cuaca 898100184

cuaca 898100185

cuaca 898100186

cuaca 898100187

cuaca 898100188

cuaca 898100189

cuaca 898100190

cuaca 898100191

cuaca 898100192

cuaca 898100193

cuaca 898100194

cuaca 898100195

article 710000191

article 710000192

article 710000193

article 710000194

article 710000195

article 710000196

article 710000197

article 710000198

article 710000199

article 710000200

article 710000201

article 710000202

article 710000203

article 710000204

article 710000205

article 710000206

article 710000207

article 710000208

article 710000209

article 710000210

article 710000211

article 710000212

article 710000213

article 710000214

article 710000215

article 710000216

article 710000217

article 710000218

article 710000219

article 710000220

article 710000221

article 710000222

article 710000223

article 710000224

article 710000225

article 710000226

article 710000227

article 710000228

article 710000229

article 710000230

article 710000231

article 710000232

article 710000233

article 710000234

article 710000235

article 710000236

article 710000237

article 710000238

article 710000239

article 710000240

article 710000241

article 710000242

article 710000243

article 710000244

article 710000245

article 710000246

article 710000247

article 710000248

article 710000249

article 710000250

artikel 338000001

artikel 338000002

artikel 338000003

artikel 338000004

artikel 338000005

artikel 338000006

artikel 338000007

artikel 338000008

artikel 338000009

artikel 338000010

artikel 338000011

artikel 338000012

artikel 338000013

artikel 338000014

artikel 338000015

artikel 338000016

artikel 338000017

artikel 338000018

artikel 338000019

artikel 338000020

artikel 338000021

artikel 338000022

artikel 338000023

artikel 338000024

artikel 338000025

artikel 338000026

artikel 338000027

artikel 338000028

artikel 338000029

artikel 338000030

artikel 338000031

artikel 338000032

artikel 338000033

artikel 338000034

artikel 338000035

artikel 338000036

artikel 338000037

artikel 338000038

artikel 338000039

artikel 338000040

artikel 338000041

artikel 338000042

artikel 338000043

artikel 338000044

artikel 338000045

artikel 338000046

artikel 338000047

artikel 338000048

artikel 338000049

artikel 338000050

artikel 338000051

artikel 338000052

artikel 338000053

artikel 338000054

artikel 338000055

artikel 338000056

artikel 338000057

artikel 338000058

artikel 338000059

artikel 338000060

artikel 338000061

artikel 338000062

artikel 338000063

artikel 338000064

artikel 338000065

artikel 338000066

artikel 338000067

artikel 338000068

artikel 338000069

artikel 338000070

artikel 338000071

artikel 338000072

artikel 338000073

artikel 338000074

artikel 338000075

artikel 338000076

artikel 338000077

artikel 338000078

artikel 338000079

artikel 338000080

artikel 338000081

artikel 338000082

artikel 338000083

artikel 338000084

artikel 338000085

artikel 338000086

artikel 338000087

artikel 338000088

artikel 338000089

artikel 338000090

news-1701