Terusir Peristiwa 1965, Keluarga yang Tinggal di Pedalaman Tiongkok ini Tetap Mencintai Indonesia

SAMARINDA – Di sebuah sudut pedalaman Tiongkok, sekitar enam jam perjalanan dari kota terdekat, berdiri sebuah rumah dengan tulisan : “Bali, Masakan Indonesia.”

Di rumah itulah tinggal Liu De Ling, pria berusia 80 tahun yang lahir di Makassar. Meski telah puluhan tahun menjadi warga negara Tiongkok, cintanya kepada Indonesia seolah tak pernah pudar.

Kisah Liu De Ling kembali mencuri perhatian setelah diceritakan oleh influencer Harbie Kurnia melalui akun Instagram @harbie16. Dalam videonya, Harbie mengaku harus menempuh perjalanan panjang menuju pedalaman Tiongkok untuk bertemu langsung dengan pasangan lansia yang menyimpan kenangan mendalam tentang Indonesia.

Liu De Ling lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Makassar. Namun pada usia sekitar 12 tahun, ia harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke Tiongkok di tengah gejolak politik yang melanda hubungan Indonesia-Tiongkok pada era 1960-an.

Di negeri baru yang kemudian menjadi tanah tinggalnya, Liu membangun kehidupan dari nol.

Ia menikah dengan seorang perempuan bernama Zhan, kelahiran Jakarta. Nasib keduanya hampir serupa. Zhan juga harus meninggalkan Indonesia dan kembali ke Tiongkok setelah peristiwa politik 1965 yang mengubah hidup banyak keluarga keturunan Tionghoa.

Meski hidup jauh dari tanah kelahiran, pasangan ini tidak pernah benar-benar meninggalkan Indonesia.

Mereka membuka toko kelontong sekaligus usaha makanan khas Indonesia. Kue lapis menjadi salah satu dagangan utama mereka. Selain itu, mereka juga menjual berbagai makanan yang akrab di lidah orang Indonesia, mulai dari nastar, kerupuk, hingga aneka kue kering.

Yang menarik, kecintaan mereka terhadap Indonesia tidak berhenti pada generasi mereka sendiri.

Saat menikah, Liu dan Zhan membuat sebuah janji sederhana namun kuat: anak-anak dan cucu mereka harus tetap bisa berbahasa Indonesia.

Janji itu mereka pegang selama puluhan tahun.

Hasilnya terlihat hari ini.

Anak perempuan mereka, Rui Jin, lahir dan besar di Tiongkok. Namun ia fasih berbahasa Indonesia. Rui Jin kini membantu meneruskan usaha keluarga dengan menjual berbagai makanan khas Indonesia. Tak hanya itu, ia juga membuka penginapan kecil yang mengusung nuansa Bali untuk para pengunjung.

Sementara putra mereka memilih jalur yang berbeda, tetapi tetap dalam semangat yang sama.

Saat ditemui Harbie, sang putra terlihat mengenakan batik sambil membakar sate. Ia menjalankan usaha kuliner yang menyajikan makanan khas Indonesia kepada warga setempat.

Di keluarga itu, bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjadi warisan.

Makanan Indonesia bukan sekadar komoditas dagang. Ia menjadi penghubung dengan masa lalu.

Dan Indonesia bukan sekadar negara tempat mereka pernah lahir. Ia telah menjadi bagian dari identitas yang mereka pertahankan selama puluhan tahun.

Ironisnya, kecintaan itu tetap tumbuh meski sejarah pernah membawa mereka pergi.

Di halaman depan rumah mereka, tulisan “Bali, Masakan Indonesia” berdiri tegak sebagai penanda. Sebuah simbol bahwa meski waktu, jarak, dan kewarganegaraan telah berubah, kenangan tentang Indonesia tetap hidup.

Kisah Liu De Ling dan Zhan memperlihatkan satu hal yang sederhana: seseorang bisa meninggalkan sebuah negeri, tetapi belum tentu meninggalkan rasa cintanya.

Puluhan tahun setelah perpisahan yang dipaksa keadaan, pasangan ini masih berbicara dalam bahasa Indonesia, memasak makanan Indonesia, mengajarkan budaya Indonesia kepada anak-anak mereka, dan menjaga Indonesia tetap hidup di tengah pedalaman Tiongkok.

Bagi Liu De Ling dan keluarganya, Indonesia mungkin sudah jauh secara geografis. Namun di hati mereka, negeri itu tampaknya tidak pernah benar-benar pergi. [*]

Print Friendly, PDF & Email