SAMARINDA – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, kembali mengingatkan bahwa daerahnya berada dalam situasi rawan bencana akibat masifnya aktivitas pertambangan batu bara. Peringatan itu mencuat setelah banjir lumpur melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam waktu hampir bersamaan.
Menurut Rudy, rangkaian bencana di tiga provinsi tersebut menjadi sinyal keras bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ia menegaskan, kondisi Kaltim yang telah dieksploitasi selama puluhan tahun justru menempatkan wilayah ini pada kerentanan tinggi.
“Saya perlu mengingatkan ini karena Kaltim sangat berpotensi terdampak akibat aktivitas tambang,” ujar Rudy saat dikonfirmasi baru-baru ini.
Rudy menyebut masih banyak lubang tambang menganga, kawasan hutan yang tergerus, serta bentang alam yang rusak akibat operasi perusahaan. Kombinasi persoalan itu, katanya, menciptakan risiko ekologis yang tak boleh disepelekan.
Ia menegaskan bahwa perusahaan tambang wajib menjalankan reklamasi pascatambang secara serius sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan. Menurutnya, reklamasi bukan sekadar pemenuhan aturan, tetapi langkah strategis untuk menekan potensi bencana di masa depan.
“Reklamasi pascatambang itu bukan pilihan, itu kewajiban. Semua perusahaan harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Rudy menyadari bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa sepenuhnya dipulihkan meski sektor tambang membawa keuntungan ekonomi besar. Namun, upaya reklamasi yang konsisten diyakini dapat memperkecil risiko serta mengembalikan sebagian keseimbangan alam Kaltim.
Ia menambahkan, abaikan peringatan ini, dan Kaltim bisa saja menghadapi musibah serupa seperti yang kini menimpa sejumlah wilayah di Sumatera.
“Kalau bencana sudah terjadi, semuanya menjadi sulit dan pasti akan ada korban. Kita berharap hal itu tidak terjadi, baik di Kaltim maupun daerah lain,” tutupnya. (ADV/diskominfo kaltim)






