Samarinda – Program GratisPOL yang digagas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menjadi angin segar bagi banyak mahasiswa baru yang tengah menghadapi beratnya biaya awal perkuliahan. Di tahun-tahun sebelumnya, masa registrasi dan persiapan masuk kuliah kerap menjadi momok bagi banyak keluarga karena berbagai kebutuhan datang bersamaan—mulai dari UKT, perlengkapan dasar, hingga biaya administrasi. Di tengah situasi inilah, kehadiran GratisPOL muncul sebagai penyelamat, memberikan keringanan signifikan bagi mahasiswa yang baru menapaki dunia pendidikan tinggi.
Muhammad Nabil Irsyad, mahasiswa baru Program DIV Keperawatan Anestesiologi Politeknik BORMED, merasakan betul arti kehadiran program tersebut. Ia masih mengingat hari-hari awal setelah dinyatakan resmi menjadi mahasiswa. Alih-alih larut dalam euforia, ia justru dibuat terkejut oleh realitas biaya besar yang harus disiapkan.
“Sebagai mahasiswa baru, jujur saya sempat kaget karena ternyata kebutuhan di awal kuliah itu banyak banget,” tuturnya, Minggu (23/11/2025).
Mulai dari pembayaran UKT pertama, perlengkapan ospek, hingga buku-buku dasar—semuanya datang bersamaan dan menumpuk.
Namun beban itu perlahan terangkat ketika Nabil dinyatakan lolos sebagai penerima *Program GratisPOL*, sebuah bantuan pendidikan yang menanggung biaya kuliah di awal masa studi. Bagi Nabil, kabar itu terasa seperti pintu baru yang terbuka lebar.
“Program GratisPOL ini sangat membantu saya, Kak. Berkat bantuan ini, orang tua saya jadi nggak terlalu pusing mikirin biaya masuk yang besar. Saya bisa fokus adaptasi dengan lingkungan kampus tanpa kepikiran masalah biaya,” ungkapnya. “Start kuliah saya jadi jauh lebih ringan.”
Nabil tidak memungkiri bahwa kondisi ekonomi keluarganya sempat membuat momen masuk kuliah terasa menegangkan. Biasanya, awal masuk perguruan tinggi adalah masa paling berat bagi orang tua—bukan karena perpisahan dengan anaknya, melainkan karena biaya yang harus dikeluarkan dalam waktu singkat.
“dengan adanya bantuan ini, dana yang tadinya disiapkan untuk UKT bisa ditabung untuk keperluan darurat atau kebutuhan rumah tangga lainnya,” jelasnya.
Ia menggambarkan bagaimana perubahan itu langsung terasa di rumah. Orang tuanya tampak lebih tenang, lebih lega, dan tidak lagi harus memutar otak menghadapi biaya besar secara mendadak.
“Beban pikiran ayah dan ibu saya jadi berkurang karena program ini, saya Berhutang Budi, dan Saya Harus Lulus Tepat Waktu”, ucapnya.
Bagi Nabil, menerima bantuan bukan hanya soal keberuntungan, tetapi juga soal tanggung jawab moral.
“Karena kuliah saya sudah dibiayai lewat GratisPOL, saya jadi berhutang budi, saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang nggak didapat semua orang ini.”katanya pelan namun mantap.
Ia mengaku motivasinya untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu meningkat pesat sejak menjadi penerima program tersebut. Ia ingin segera mandiri dan membuktikan bahwa bantuan yang diterimanya tidak salah sasaran.
“Ini kesempatan besar. Saya harus membuktikan saya layak, saya Ingin Lebih Banyak Teman Bisa Merasakan Ini”, ucapnya.
Di balik rasa syukur itu, Nabil menyimpan satu harapan besar: program GratisPOL semakin meluas.
“Di luar sana masih banyak teman-teman saya yang pintar dan punya potensi, tapi terpaksa mengubur mimpi kuliah karena ekonomi, saya ingin mereka juga merasakan kelegaan yang saya rasakan sekarang”, tegas nabil.
Baginya, sangat disayangkan jika generasi muda harus menyerah hanya karena masalah biaya, padahal ada program yang terbukti meringankan dan membuka kesempatan bagi banyak mahasiswa seperti dirinya. [min/adv diskominfo kaltim]






