Samarinda – Banyaknya masalah pendidikan di Samarinda disoroti Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti.
“Ada beberapa sekolah yang masih numpang, belum lagi sekolah-sekolah yang kayu. Ada yang separuhnya beton dan separuhnya kayu, ada juga yang bolong-bolong,” kata Puji, Kamis (25/1/2024).
Selain itu, ada banyak mebeler yang belum dilengkapi. Puji mengungkapkan masih ada ratusan anak yang kekurangan mebeler.
“Kita mungkin masih butuh 10 ribu mebeler untuk anak di Samarinda. Kita punya 135 ribu siswa mulai PAUD sampai SMP,” tegasnya.
Dia mengaitkan lagi dengan masalah Sumber Daya Manusia (SDM). Di mana, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan honorer.
Politisi Fraksi Demokrat itu juga menegaskan bahwa angka PNS tiap tahunnya mencapai 100-200 orang yang pensiun.
“Dan digantikan dengan honorer, PPPK juga seperti itu. PPPK itu kadang kalau dia keterima di sekolah negeri artinya swasta kekurangan guru, padahal dia sudah lama di swasta,” imbuhnya.
“Artinya, ini juga menjadi permasalahan, belum lagi PPPK yang misalnya dia alamatnya di mana, nanti keterima di sekolah mana. Karena kebutuhan,” jelasnya.
Menurutnya aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tidak 100 benar. Kembali ke guru honor, dia mempertanyakan masalah insentifnya.
“Banyak ya, lalu guru sekarang tengah berjuang semoga saja berhasil untuk menaikkan insentif dari guru pendamping untuk anak-anak inklusi,” pungkasnya.[wan/ADV/DPRD Kota Samarinda]






