Dari Sumur Bor hingga Ambulans, Warga Bayur Titip Banyak Aspirasi ke Sugiono

SAMARINDA — Bagi warga Bayur, persoalan sehari-hari tidak selalu tentang proyek besar.

Ada air bersih yang sulit didapat ketika kemarau. Ada drainase yang tak lagi mampu menampung air hujan. Ada kebutuhan timbangan digital untuk bayi dan balita di posyandu. Ada pula kebutuhan ambulans hingga lahan pemakaman.

Persoalan-persoalan itulah yang dibawa warga ketika Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sugiono, menggelar reses di kawasan Jalan Mulawarman, Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara.

Bayur sendiri merupakan bagian dari Kelurahan Sempaja Utara. Data resmi Pemerintah Kota Samarinda mencatat RT 17 berada di Jalan Mulawarman Bayur, sementara RT 19 berada di Jalan KH Maksum Bayur.

Di hadapan warga, Sugiono membuka ruang selebar-lebarnya untuk menyampaikan kebutuhan lingkungan.

“Saya minta masukan dari bapak ibu. Tapi saya harus turun ke lapangan. Silakan bapak ibu usulkan pembangunan apa. Nanti tim saya rekap dan bakal kami usulkan.”

Kalimat itu kemudian dijawab warga dengan sejumlah persoalan yang mereka hadapi.

Air menjadi persoalan ketika kemarau

Dari RT 17, warga mengusulkan pembangunan sumur bor.

Bukan tanpa alasan. Ketika musim kemarau datang, ketersediaan air menjadi persoalan bagi warga.

Sumur bor diharapkan bisa menjadi solusi agar kebutuhan air masyarakat tidak terus bergantung pada kondisi musim.

Usulan serupa datang dari warga RT 19.

Namun kali ini bukan hanya sumur bor.

Warga juga meminta perbaikan drainase.

Saat hujan turun, kawasan tersebut rawan tergenang. Kondisi drainase yang mengalami sedimentasi membuat aliran air tidak berjalan maksimal.

Persoalannya sederhana, tetapi dampaknya langsung dirasakan warga: ketika hujan deras, air lebih mudah menggenang.

Dari kebutuhan air, bergeser ke kebutuhan anak-anak

Kelompok ibu-ibu juga menyampaikan kebutuhan yang berbeda.

Mereka mengusulkan bantuan timbangan digital untuk bayi dan balita.

Alat tersebut dibutuhkan untuk mendukung kegiatan posyandu, khususnya pemantauan pertumbuhan anak.

Kebutuhan lain yang ikut disampaikan warga adalah mobil ambulans.

Selain itu, warga juga meminta perhatian terhadap kebutuhan lahan pemakaman.

Dengan begitu, daftar aspirasi yang dibawa warga Bayur cukup beragam: mulai dari kebutuhan dasar seperti air bersih, persoalan lingkungan seperti drainase, pelayanan kesehatan anak, hingga fasilitas sosial berupa ambulans dan lahan pemakaman.

Bukan daerah pemilihannya

Ada satu hal yang menarik dari pertemuan itu.

Sugiono mengakui bahwa kawasan tersebut bukan daerah pemilihannya.

Namun, menurut dia, hal itu bukan alasan untuk menutup telinga terhadap kebutuhan masyarakat.

“Tapi itu bukan masalah. Saya turun mendengarkan aspirasi masyarakat.”

Baginya, reses bukan semata-mata datang ke daerah pemilihan untuk mendengar konstituen sendiri.

Warga yang menyampaikan persoalan tetap memiliki hak untuk didengar.

Jalan Ulin dan cerita yang sudah lebih dulu berjalan

Sugiono kemudian mengingatkan warga bahwa sebelumnya ia juga telah memperjuangkan pembangunan Jalan Ulin.

Menurut Sugiono, usulan pembangunan jalan tersebut bernilai sekitar Rp6 miliar dan saat ini dalam proses pengerjaan.

Jalan itu dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat Bayur dan Batu Besaung.

Sebelum jalan tersebut diperbaiki, warga yang hendak bepergian harus mengambil jalur memutar melalui kawasan Pinang Seribu.

Jarak tempuh pun menjadi lebih jauh.

Dengan adanya akses Jalan Ulin, warga diharapkan tidak lagi harus mengambil jalur memutar tersebut.

“Jalan Ulin murni usulan Pak Sugiono senilai Rp6 miliar. Manfaatnya sangat luar biasa bagi masyarakat Bayur dan Batu Besaung. Tidak perlu putar lagi ke Pinang Seribu,” kata Sugiono.

Hampir 40 tiang lampu di Batu Cermin

Sebelumnya, di kawasan yang masih berada di sekitar Sempaja Utara, Sugiono juga menyebut dirinya telah memperjuangkan bantuan lampu penerangan jalan di Batu Cermin.

Jumlahnya disebut mencapai hampir 40 tiang.

Pesannya kepada warga pun cukup sederhana.

Ia meminta masyarakat tidak ragu menyampaikan persoalan yang ada di lingkungan masing-masing.

“Kalau ada warga beri usulan, foto, share lokasi.”

Sebab bagi Sugiono, persoalan di lapangan tidak selalu terlihat dari balik meja.

Harus datang.

Harus melihat.

Dan yang paling penting, harus mendengar langsung dari warga.

Kini, setelah reses di Bayur, daftar pekerjaan rumah itu sudah bertambah: sumur bor, drainase, timbangan bayi-balita, ambulans, hingga lahan pemakaman.

Tinggal satu pertanyaan berikutnya:

Mana yang akan masuk daftar usulan, dan mana yang benar-benar terealisasi? [*/zak]

Print Friendly, PDF & Email