Samrinda – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perkuliahan di STIS Balikpapan, seorang mahasiswa bernama Fawwaz menyimpan kisah yang menggambarkan begitu besarnya arti pendidikan bagi keluarga sederhana sepertinya. Lahir dan tumbuh di keluarga menengah ke bawah, ia memahami sejak awal bahwa kuliah bukanlah perkara mudah—terutama jika empat bersaudara di rumahnya sedang menempuh pendidikan secara bersamaan.
“Kami empat bersaudara, semuanya sekolah. Ada yang SD, ada yang SMA, saya kuliah. Bebannya tentu besar sekali bagi orang tua,” ucap Fawwaz dengan nada hati-hati.
Namun, di antara kecemasan itu, ada satu titik terang yang membuatnya kembali bisa bernapas lega. Titik terang itu bernama Program GratisPOL, program bantuan pembiayaan pendidikan yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Bagi Fawwaz, GratisPOL tidak hanya sekadar dana bantuan. Itu adalah jaminan, harapan, dan penopang utama perjalanan pendidikannya.
“Program GratisPOL sangat membantu kami dalam pembiayaan kuliah di kampus. Seperti UKT, uang skripsi, bahkan pembiayaan asrama,” ungkapnya, Selasa (18/11/2025).
STIS Balikpapan merupakan kampus berbasis asrama dan non-asrama, sehingga biaya hidup menjadi bagian dari kebutuhan pendidikan. Dengan hadirnya GratisPOL, beban itu seakan diangkat dari pundaknya.
“Artinya, program ini sudah menjamin biaya kuliah sampai lulus S1. Itu yang bikin saya bisa fokus kuliah tanpa mikir dana. Dan tentu sangat meringankan orang tua yang mencari nafkah,” tambahnya.
Bagi Fawwaz, kata “sangat-sangat membantu” bukan sekadar ungkapan. Itu lahir dari kenyataan bahwa orang tuanya tidak lagi harus memikirkan satu pos besar biaya di tengah tanggungan pendidikan empat anak.
Fawwaz merasakan perbedaan nyata antara GratisPOL dan program bantuan sebelumnya. Ia menyebut GratisPOL sebagai program terbaik yang pernah hadir untuk mahasiswa di Kaltim.
“Beasiswa dulu itu kadang bisa dipakai untuk hal selain kebutuhan kuliah. Salah sasaran. Tapi GratisPOL ini berbeda, karena dikelola kampus, jadi dananya benar-benar digunakan sesuai kebutuhan pendidikan, bukan pribadi,” jelasnya.
Dengan pengelolaan langsung oleh kampus, ia merasa proses pendidikan jauh lebih lancar dan terukur. Tidak ada lagi kekhawatiran dana terpakai untuk kebutuhan lain, atau harus menunda pembayaran kewajiban kampus.
Kepastian itulah yang membuatnya tenang, dan menurutnya, itu juga yang membuatnya mampu menjaga motivasi belajar tetap tinggi. Di balik rasa syukurnya, Fawwaz sadar bahwa setiap kemudahan membawa tanggung jawab.
“Motivasi saya meningkat. Tapi juga ada rasa tanggung jawab yang harus dipenuhi. Karena sudah dibantu, saya harus menyelesaikan kuliah dengan baik,” ujarnya.
Dengan satu kebutuhan pendidikan yang sudah terjamin, keluarganya kini bisa fokus untuk membiayai pendidikan adik-adiknya.
“Ada satu target yang sudah tuntas dan tidak perlu dikhawatirkan,” katanya dengan nada lega.
Bagi Fawwaz, GratisPOL bukan hanya program bantuan. Ini adalah langkah pemerintah dalam membangun pondasi pendidikan yang merata dan berkualitas di Kalimantan Timur.
“Harapan saya, program ini bisa berlanjut untuk tahun-tahun mendatang. Menebar manfaat untuk masyarakat, terutama di bidang pendidikan, demi menciptakan bangsa yang cemerlang dan terdepan,” ujarnya. [min/adv/diskominfo kaltim]





