1.279 Pasutri di Kukar Ajukan Cerai, Ekonomi Jadi Ujian Rumah Tangga

TENGGARONG — Rumah tangga yang dibangun dengan harapan hidup bersama ternyata tidak selalu berjalan sesuai rencana. Di balik angka ribuan perkara perceraian di Kutai Kartanegara (Kukar), ada pasangan yang memilih bertahan, ada pula yang akhirnya mengambil jalan berpisah.

Hingga akhir Agustus 2026, tercatat 1.279 perkara perceraian diajukan ke Pengadilan Agama (PA) Tenggarong. Angka tersebut menggambarkan persoalan rumah tangga yang cukup kompleks di tengah kehidupan masyarakat Kukar.

Dari total perkara tersebut, 972 merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak istri. Sementara 307 perkara lainnya merupakan cerai talak yang diajukan oleh suami.

Di balik banyaknya gugatan itu, persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang paling dominan.

Tekanan kebutuhan hidup, kondisi keuangan keluarga, hingga ketidakmampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga dapat menjadi pemicu konflik yang berlangsung berulang. Persoalan ekonomi yang tidak terselesaikan kemudian berpotensi merembet ke persoalan lain dalam hubungan suami istri.

Namun, masalah rumah tangga di Kukar tidak berhenti pada persoalan ekonomi.

Judi online, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta salah satu pasangan meninggalkan rumah tangga juga menjadi sejumlah faktor yang melatarbelakangi perceraian.

Fenomena lain yang turut menjadi perhatian adalah pasangan yang memutuskan berpisah meski usia pernikahan mereka masih relatif muda.

Pernikahan yang baru berjalan dalam waktu singkat harus berakhir ketika pasangan menghadapi persoalan yang belum mampu mereka kelola. Kesiapan ekonomi dan mental menjadi bagian penting yang menentukan kemampuan pasangan dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan rumah tangga.

Angka 1.279 perkara itu pada akhirnya bukan sekadar statistik. Di balik setiap perkara, terdapat cerita tentang keluarga, harapan yang pernah dibangun, konflik yang tak kunjung selesai, dan keputusan berat untuk mengakhiri sebuah pernikahan.

Bagi pasangan yang masih berusaha mempertahankan rumah tangga, persoalan ekonomi menjadi salah satu ujian yang perlu dihadapi bersama. Sebab ketika tekanan finansial bertemu dengan komunikasi yang buruk dan persoalan lain, hubungan yang semula dibangun dengan harapan dapat perlahan berubah menjadi konflik.

Di PA Tenggarong, berbagai perkara tersebut kemudian berujung pada proses hukum untuk menentukan masa depan masing-masing pasangan.

Sementara bagi keluarga yang telah mengambil keputusan untuk berpisah, angka perceraian itu menjadi penanda bahwa persoalan rumah tangga membutuhkan perhatian lebih luas—bukan hanya ketika konflik sudah berada di meja pengadilan, tetapi sejak pasangan mulai menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

Print Friendly, PDF & Email