Gubernur Kaltim Rudi Mas’ud Dorong Transisi Ekonomi Fosil ke Ekonomi Berkelanjutan

DOK.IST

Samarinda — Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudi Mas’ud menegaskan bahwa Kaltim harus segera mempercepat transisi ekonomi dari ketergantungan pada sumber daya fosil menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan. Menurutnya, masa depan Kaltim tidak boleh terus bergantung pada sektor tambang dan migas, terutama mengingat penurunan cadangan alam dan perubahan arah kebijakan nasional menuju energi bersih.

“Jika Kaltim terus mengandalkan ekonomi fosil, maka kita akan tertinggal. Kita harus berani beralih ke ekonomi berkelanjutan, energi hijau, dan industri yang ramah lingkungan. Itulah masa depan Kaltim,” tegas Rudi dalam agenda koordinasi pembangunan hijau di Samarinda.


Kaltim Masih Bergantung pada Sumber Daya Fosil

Selama puluhan tahun, Kaltim menjadi salah satu daerah dengan kontribusi terbesar terhadap produksi batu bara dan migas nasional. Namun model ekonomi tersebut dinilai tidak lagi dapat dijadikan fondasi jangka panjang karena:

  • fluktuasi harga global,
  • tekanan pasar internasional terhadap energi fosil,
  • risiko kerusakan lingkungan di wilayah tambang,
  • dan potensi penurunan pendapatan daerah akibat cadangan tambang yang semakin menipis.

Rudi menilai bahwa transisi menuju ekonomi hijau harus dimulai dari sekarang.

“Perubahan itu bukan pilihan, tapi kebutuhan. Kita harus mulai menggeser sumber pertumbuhan ekonomi ke sektor yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Strategi Kaltim Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Gubernur Rudi Mas’ud menyiapkan sejumlah langkah strategis:

1. Penguatan Sektor Pertanian, Perikanan & Peternakan

Untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara, Pemprov memperkuat sektor produktif rakyat:

  • teknologi pertanian modern,
  • penguatan irigasi,
  • bantuan alat pertanian dan perikanan,
  • pengembangan kawasan pangan desa.

“Pangan adalah masa depan. Sektor inilah yang harus diperkuat agar ekonomi lebih stabil,” kata Rudi.

2. Energi Terbarukan

Pemprov mulai mendorong:

  • pemanfaatan tenaga surya di desa-desa,
  • potensi energi biomassa dan air,
  • kerja sama dengan perusahaan energi hijau di kawasan IKN.

IKN sendiri dirancang sebagai kota dengan energi terbarukan hingga 80%, sehingga Kaltim harus siap menjadi mitra penyedia.

3. Rehabilitasi Lingkungan dan Lahan Bekas Tambang

Pemprov menekankan restorasi lingkungan melalui:

  • rehabilitasi DAS,
  • reforestasi lahan bekas tambang,
  • pengawasan ketat perusahaan tambang,
  • pembangunan ekowisata di kawasan yang telah direstorasi.

4. Ekonomi Hijau & UMKM

Rudi mendorong pengembangan UMKM berbasis:

  • produk organik,
  • kerajinan ramah lingkungan,
  • usaha pengolahan limbah,
  • serta industri kreatif yang tidak bergantung pada sumber daya alam.

5. Kesiapan SDM Menghadapi Perubahan Ekonomi

Pemprov memperluas pelatihan tenaga kerja untuk:

  • green jobs,
  • teknologi terbarukan,
  • digitalisasi desa,
  • profesi non-tambang.

“Perubahan ekonomi harus diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.

IKN sebagai Motor Transisi Ekonomi Kaltim

Hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai menjadi momentum penting bagi Kaltim untuk beralih ke ekonomi hijau karena:

  • IKN dibangun dengan konsep kota hutan,
  • kebutuhan tenaga kerja hijau meningkat,
  • peluang bisnis hijau terbuka luas,
  • permintaan energi ramah lingkungan sangat besar.

“Kaltim tidak boleh hanya menjadi penyangga IKN, tetapi harus menjadi pusat inovasi ekonomi hijau,” ungkap Rudi.

Komitmen Kaltim: Ekonomi yang Maju, Lingkungan Tetap Terjaga

Rudi menegaskan bahwa transisi ekonomi bukan berarti menutup sektor tambang secara tiba-tiba, melainkan mengurangi ketergantungan sambil memperkuat sektor-sektor masa depan.

“Kita ingin ekonomi Kaltim tetap kuat tanpa merusak alam. Pembangunan boleh maju, tetapi lingkungan harus tetap terjaga,” katanya.

Ia mengajak seluruh perusahaan, pemerintah kabupaten/kota, serta masyarakat untuk bersama-sama mendukung langkah transisi ini. [zk/adv diskominfo kaltim]

Print Friendly, PDF & Email