SAMARINDA – Rencana nonton bareng (nobar) film Eksil di Samarinda, Kalimantan Timur, mendadak dibatalkan sehari jelang nobar itu digelar pada Rabu (21/2/2024).
Pembatalan itu karena panitia dianggap tak mengurus surat izin keramaian dari kepolisian setempat.
Penyelenggara nobar, Wisnu Juliansyah bersama rekan-rekannya kaget dan merasa aneh, sebab diminta harus mengantongi surat izin keramaian sehari jelang nobar itu digelar.
“Pertama kami diberitahu mendadak, H-1. Sementara urus surat itu ribet dan lama. Ngapain juga (urus surat izin keramaian), kan cuma nonton film di bioskop bukan demo,” kata Wisnu di Samarinda, Kamis (22/2/2024).
Wisnu dan tim penyelenggara memang sedari awal tak berniat mengurus surat izin keramaian. Itu karena kegiatannya hanya nobar film dan di dalam ruangan bioskop.
“Itu kan nonton bareng (film) yang kemudian sewa teater kaya bioskop gitu. Itu bukan fasilitas publik, itu fasilitas swasta yang kami sewa, kami bayar, ya enggak perlu izin keramaian,” tegas Wisnu.
Wisnu menduga motif di balik pembatalan nobar itu punya kaitan dengan dinamika politik pilpres 2024 yang masih hangat sejak film Dirty Vote diluncurkan.
Kronologi Pembatalan
Wisnu menceritakan awal mula muncul ide nobar film Eksil itu sekitar satu pekan lalu, saat itu dia bersama rekannya di Komunitas Aksi Kamisan Kaltim membaca sebuah postingan akun Instagram rumah produksi film Eksil.
“Jadi mereka buka, siapapun kelompok di daerah yang mau nobar film Eksil silahkan menghubungi mereka siap fasilitasi. Akhirnya kawan-kawan di Kamisan Kaltim mau buat di Samarinda,” kata Wisnu.
Wisnu dkk akhirnya memutuskan menyewa salah satu studio [cinema 2] yang berkapasitas 146 penonton di CGV Plasa Mulia, Samarinda seharga Rp 4.050.000.
Setengah harga sudah dibayar depan ke pihak pengelola CGV Plasa Mulia, Samarinda. Setengahnya akan dilunasi sehari sebelum nobar digelar, Kamis (22/2/2024).
Uang itu didapat dari hasil penjualan tiket. Ada 146 tiket sudah terjual dengan harga Rp 30.000 per satu tiket.
Tapi, pada Rabu (21/2/2024) pihak pengelola CGV Plasa Mulia memanggil Wisnu dkk lalu memberitahu bahwa pihaknya tak bisa menayangkan film itu, sebelum ada surat izin keramaian dari kepolisian.
“Jadi pihak pengelola CGV juga diminta urus surat izin keramaian. Kami selaku panitia nobar juga sama,” terang Wisnu.
Akhirnya, pihak CGV beri 2 opsi kepada panitia nobar, cancel atau diundur sampai panitia mengantongi surat izin keramaian kepolisian.
Menurut Wisnu, sebelum diberi 2 pilihan itu, pihak pengelola CGV sempat bertanya-tanya soal cerita film Eksil. Wisnu berusaha menjelaskan secara singkat cerita dalam film Eksil.
Pengelola Bioskop CGV, Puspa. “Maaf untuk saat ini pihak kami belum bisa memberikan informasi,” Puspa melalui pesan singkat WhatApps, Kamis [22/2/2024].
Pihak Bioskop CGV Dipanggil Polisi
Sebelum bertemu Wisnu dkk, pihak pengelola CGV diduga dipanggil polisi. Tapi saat bertemu Wisnu dkk, para pengelola ini berdalih surat izin keramaian itu diminta oleh manajemen.
“Dia (pihak CGV) juga ada ngomong lewat chat, bahwa dia sempat ke Polres (Polresta Samarinda). Setelah ketemu kami baru diminta bikin surat izin keramaian,” ungkap Wisnu.
Wisnu bilang pihak pengelola pun sebenarnya binggung soal izin keramaian ini. Sebab, sebelumnya nobar film yang digelar di lokasi sama, tidak pernah mengantongi izin keramaian.
“Makanya pihak CGV ini sebenarnya heran juga, kenapa nobar film ini (Eksil) pakai surat izin keramaian. Mereka bilang ke kami, sebelum-sebelumnya enggak pernah pakai izin keramaian,” terang Wisnu.
Saat ini Wisnu dkk masih mempertimbangkan alternatif lokasi lain, agar nobar film Eksil itu tetap terlaksana. Namun, dia membuka peluang bagi para pembeli tiket uangnya dikembalikan atau menunggu sampai dijadwalkan kembali nobar.
Batal Nobar Penonton Kecewa
Rahman Dwi Saputra (29) yang sudah membeli tiket, mengaku kecewa karena batal nobar film Eksil.
“Sangat disayangkan, nobar film gagal ditayangakn H-1. Ya kecewa banget. Kami kecewa ke pihak keamanan, kenapa H-1 batal diputuskan secara sepihak,” ungkap dia.
Padahal, kata dia, film itu akan menginspirasi anak muda. Film yang mengisahkan perjuangan pemuda pemudi di 1965 yang sekolah ke luar negeri tapi tak bisa pulang dan tanpa kewarganegaraan.
“Itu bagian dari sejarah, dan kita harus tahu. Entah itu baik atau buruk itu lah sejarah kita, kenapa harus dibatalkan (nobar),” keluh dia. [*]






