Oleh ;
Nina Iskandar [Korlap Aksi 18 Mei 2026]
SELAMA puluhan tahun, rakyat Kalimantan Timur hidup di atas tanahnya sendiri, tetapi dipaksa merasa seperti orang asing di kampung halamannya sendiri.
Konflik lahan antara masyarakat dengan pemegang izin Hak Guna Usaha (HGU), industri besar, hingga proyek-proyek negara terus terjadi dari generasi ke generasi. Ada yang berlangsung 10 tahun, 20 tahun, bahkan lebih dari 40 tahun tanpa penyelesaian yang benar-benar berpihak kepada rakyat kecil.
Padahal masyarakat memiliki sejarah.
Masyarakat memiliki kebun.
Masyarakat memiliki rumah.
Masyarakat memiliki makam leluhur.
Bahkan banyak warga memiliki surat dan dokumen yang dikeluarkan negara maupun pemerintah setempat. Namun ketika rakyat berhadapan dengan kekuatan modal, izin, dan aturan yang terus berubah, rakyat selalu diposisikan lemah dan kalah.
Kami memahami bahwa hari ini daerah kami sedang berada dalam situasi politik yang gaduh. Kami mendengar tentang hak angket, pemakzulan, konflik elite, dan berbagai isu kekuasaan lainnya.
Tetapi terus terang, sebagai rakyat kecil yang selama puluhan tahun kehilangan tanah dan ruang hidup, kami tidak memiliki kemewahan untuk terus mengikuti perang politik yang tidak menyentuh penderitaan kami sedikit pun.
Ini bukan kali pertama daerah ini diramaikan oleh tuntutan-tuntutan yang tidak pernah benar-benar menyentuh derita kami.
Mahasiswa dengan gagah dan lantang berteriak soal pemakzulan atas nama kekhawatiran terhadap rakyat. Namun kami yang menyaksikan perdebatan itu dari jauh hanya bisa geleng kepala.
Mereka tidak pernah melihat kami yang terlunta-lunta dari kantor ke kantor, menuntut keadilan dari ruang ke ruang, dari waktu ke waktu.
Berita tentang kami berhamburan.
Tetapi mahasiswa diam.
Ada apa?
Apakah karena kami bukan bagian dari politik praktis itu?
Hari ini kami sudah tidak bisa diam lagi.
Kami tidak ingin ditunggangi.
Kami tidak ingin dijadikan alat oleh kepentingan kelompok mana pun.
Kami datang bukan sebagai mahasiswa.
Kami bukan bagian dari tim politik.
Kami bukan bagian dari kepentingan elite.
Kami bukan ormas yang sedang mencari panggung.
Kami adalah rakyat yang tersandera keadaan.
Kami adalah korban dari kebringasan aturan yang jauh dari rasa keadilan.
Kami adalah petani, warga desa, masyarakat kecil yang selama ini terus dipinggirkan.
Karena itu kami meminta kepada seluruh kelompok yang hari ini mengatasnamakan perjuangan rakyat:
Tolong lihat kami.
Berhentilah sejenak dari pertarungan politik yang berkepanjangan apabila itu tidak benar-benar menyentuh penderitaan rakyat di bawah.
Kami hampir mati menunggu jadwal, menunggu kepastian, menunggu panggilan, menunggu kehadiran Gubernur.
Kami datang bergantian, kami datang dari waktu ke waktu. Namun yang kami lihat hanyalah penutupan jalan dan akses akibat berbagai aksi demonstrasi.
Kami sebenarnya bangga melihat anak-anak muda berjuang atas nama rakyat, menghantam pagar kekuasaan, berhadapan dengan aparat, dan berteriak lantang tentang kesejahteraan.
Hati kami senang melihat itu.
Namun di lubuk hati paling dalam, kami bertanya:
Kapan orang-orang ini bersatu untuk menyuarakan penderitaan kami?
Kami ingin bertemu Gubernur, tetapi terhalang berbagai agenda dan hiruk-pikuk aksi yang bahkan kami sendiri tidak memahami persoalannya.
Kini semua mulai kisruh.
Suara pemakzulan mulai diteriakkan.
Dan kami pun tidak bisa diam lagi.
Kalau pemakzulan itu benar terjadi, lalu siapa lagi pemimpin berikutnya yang harus kami kejar? Siapa lagi yang harus kami datangi untuk mengulang cerita yang sama demi memohon bantuan?
Tidak.
Kami bangkit.
Kami lelah menunggu.
Kami akan bersuara lantang kepada siapa pun yang selama ini meneriakkan rakyat sejahtera.
Kami mohon, beri kami ruang untuk menyerukan derita kami sendiri.
Hari ini kami datang mengetuk pintu Gubernur.
Bukan untuk membuat kekacauan.
Bukan untuk menghina pemerintah.
Bukan untuk menjatuhkan siapa pun.
Bukan pula untuk menandingi aksi-aksi berjilid yang sudah berlangsung sebelumnya.
Kami datang untuk memperlihatkan bahwa kami ada.
Bahwa kami masih hidup.
Bahwa ada rakyat Kalimantan Timur yang selama puluhan tahun menangis dalam diam, tetapi jarang sekali disuarakan oleh ormas, mahasiswa, maupun para elite yang hari ini sibuk berteriak soal pemakzulan dan hak angket.
Bahkan anggota DPRD dari daerah pemilihan kami yang begitu keras menuntut hak angket terhadap Ketua DPRD Kaltim, tidak sedikit pun melihat kondisi kami di sini.
Kami hidup dihantam proyek strategis nasional.
Sawah kami hilang.
Tanah kami tak lagi berharga.
Hasil keringat kami dianggap tidak ada artinya, lalu berubah menjadi bangunan-bangunan megah yang bahkan kami sendiri tidak tahu manfaatnya untuk siapa.
Kami, rakyat yang selama ini dijual untuk kepentingan politik dan kaum elite, hari ini tidak akan tinggal diam lagi.
Kami bangkit melawan.
Kami masih membutuhkan pemimpin.
Kami masih membutuhkan Gubernur kami.
Kami meminta kepada Bapak Gubernur Rudy Mas’ud agar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan politik yang tidak memberi dampak nyata bagi rakyat kecil yang sedang menderita.
Bapak, kami memohon:
Turunlah ke wilayah-wilayah terdampak.
Datanglah melihat langsung rakyat yang kehilangan tanahnya.
Temui petani yang hidupnya hancur karena konflik yang tak kunjung selesai.
Dengarkan suara ibu-ibu yang mempertahankan tanah warisan keluarganya.
Lihat anak-anak desa yang tumbuh di tengah ketidakpastian masa depan.
Aksi-aksi politik di depan kantor pemerintahan mungkin masih bisa diwakilkan oleh jajaran lain.
Tetapi penderitaan rakyat di kampung-kampung tidak bisa terus menunggu.
Kami memahami bahwa banyak persoalan HGU dan proyek besar merupakan kewenangan pemerintah pusat. Namun kepada siapa lagi rakyat meminta perlindungan kalau bukan kepada pemimpin daerahnya sendiri?
Kami membutuhkan keberanian pemerintah daerah untuk bersuara lebih keras kepada pemerintah pusat.
Kami membutuhkan tekanan dan dukungan nyata dari pemimpin daerah.
Kami membutuhkan keberpihakan.
Kami membutuhkan pendampingan.
Kami membutuhkan kehadiran seorang pemimpin.
Karena semua cara telah kami lakukan.
Kami sudah mengadu.
Kami sudah bersurat.
Kami sudah bertahan.
Kami sudah menunggu terlalu lama.
Tetapi lagi-lagi rakyat dikalahkan.
Hari ini kami datang melawan arus ratusan aksi yang terus berjilid-jilid di depan kantor pemerintah.
Kami datang bukan untuk mengemis.
Kami datang untuk dilihat.
Kami datang bukan untuk membuat keonaran.
Kami datang ingin memeluk Gubernur kami, agar beliau kembali melihat rakyat yang selama ini tertinggal. Agar Gubernur berhenti hanya mendengarkan suara-suara di belakangnya yang belum tentu benar-benar mewakili rakyat seperti kami.
Kami mengetuk pintu Gubernur.
Sebab kami percaya:
Pemimpin sejati bukan hanya hadir dalam ruang kekuasaan, tetapi hadir di tengah rakyat yang paling menderita.
Dan hari ini…
kami adalah rakyat itu
[Tulisan opini ini sepenuhnya menjadi tanggungjawan penulis].






