Samarinda – Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Abdul Rohim kritisi revitalisasi Pasar Pagi yang hingga kini belum dimulai.
Padahal sebelumnya untuk revitalisasi Pasar Pagi ini sudah ditargetkan rampung dalam waktu kurang dari setahun, yakni pada akhir 2024 mendatang.
Target tersebut dibuat berdasarkan berakhirnya masa jabatan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Samarinda, yang ditakutkan mangkrak jika melewati batas masa jabatannya (wali kota).
“Jadi sebenarnya sejak awal kami sudah mengingatkan kepada pemerintah kota (pemkot) dalam beberapa kali pertemuan bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan kebetulan ada juga dihadiri oleh wali kota,” kata Rohim, Senin (8/1/2024).
Dia juga meminta pemerintah pada tiap proyek harusnya memperhatikan konteks manajemen output juga, dan tidak boleh hanya berhenti pada output saja tepai juga harus sampai pada outcame.
“Bahwa program itu dibuat apa dampaknya, dan benefit yang mau dirasakan. Tetapi yang dirasakan oleh masyarakat, dan bukan hanya untuk pemerintah,” tegasnya.
Rohim juga menekankan bahwa pembiayaan program atau proyek itu bersumber dari masyarakat. Maka sudah seharusnya, pihak pertama yang harus merasakan dampak dari pembangunan juga masyarakat.
“Makanya sejak awal kami mengingatkan kepada pemkot, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah dampak sosial ekonominya,” urainya.
Politisi Fraksi PKS itu menginginkan, dalam tiap program pemkot harus memikirkan dampak sosial harus positif, dan tidak negatif.
“Sekarang ini proses yang terjadi awalnya kami berkhusnudzan kepada pemkot, bahwa segala sesuatunya sudah dipersiapkan,” terangnya. [wan/ADV/DPRD Kota Samarinda]






