Samarinda – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda inginkan pekerjaan revitalisasi Pasar Pagi selesai dalam satu tahun.
Menurut, Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Abdul Rohim menjelaskan jika saat ini sudah ada pedagang yang beralih profesi karena omset yang menurun.
“Modal sudah tidak ada, karena belanja modal kemudian tidak laku, akhirnya sudah kehabisan modal, sekarang jadi ojol. Itu sudah terjadi dibeberapa,” kata Rohim, Kamis (11/1/2024).
Ditambah dengan muncul lagi masalah dengan 48 ruko Sertifikat Hak Milik (SHM). Dari sini, pihaknya sudah khawatir terkait penyelesaian yang direncanakan tersebut.
“Apa yang direncanakan pembangunan satu tahun ini malah molor. Nah, molor inilah yang kami sebut sebagai dampak sosial ekonomi, apalagi bicara tentang 2.800 pedagang dan 48 SHM,” ungkapnya.
Di mana, menurutnya ini sangat berdampak cukup siginfikan bagi ekonomi masyarakat yang terlibat secara langsung maupun tidak disekitar Pasar Pagi tersebut.
Bahkan, Rohim juga mengaku pihaknya sangat mendukung revitalisasi Pasar Pagi tersebut, akan tetapi tetap mengingatkan pemkot untuk segera menyelesaikan proyek terserbut.
“Makanya saya beberapa kali ditanya, saya bilang pemkot sepertinya harus mengevaluasi secara total, evaluasi soal 48 SHM ini agar bisa segera diselesaikan,” urainya.
Politisi Fraksi PKS ini pun meminta evaluasi terkait tempat relokasi para pedagang. Agar ektivitas ekonominta bisa terus berjalan.
“Misalnya begini, yang saya maksud dengan memobilisasi pelanggan ini seperti ada upaya pemkot untuk bayar jasa influencer, kemudian suruh mereka bikin konten, seperti di Segiri Grosir dan Pasar Sungai Dama,” tegasnya.
Kemudian, konten tersebut akan dilihat banyak masyarakat, dan mereka kemudian akan berbondong-bondong datang kesana.
“Jadi sekali lagi, kita tidak mau hanya ada mobilisasi pedagang, tapi tidak ada uoaya memobilisasi pelanggan juga. Karena ini proses perputaran ekonomi,” pungkasnya. [wan\ADV\DPRD Kota Samarinda]






